Agretail - Genjot Perbibitan Sapi Lokal, BPTP Sulawesi Tengah Ciptakan Formula Pakan dari Bahan Limbah Pertanian

Genjot Perbibitan Sapi Lokal, BPTP Sulawesi Tengah Ciptakan Formula Pakan dari Bahan Limbah Pertanian


Pembangunan pertanian Indonesia ke depan dihadapkan pada tantangan bagaimana memantapkan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan petani, sekaligus juga harus menjaga keberlanjutan (sustainability) dan kelestarian sumber daya.  Tantangan lainnya adalah mengupayakan tercapainya Sustainability Development Goals (SDG’s) yang mencakup penurunan angka kemiskinan, pengangguran dan rawan pangan. Tantangan nasional dan global tersebut nampaknya dapat dijawab melalui optimalisasi hasil ikutan tanaman sebagai bahan pakan untuk perbaikan nutrisi ternak sapi potong. 

Kedepan daerah Sulawesi Tengah berpeluang menjadi daerah penyangga kebutuhan pangan Ibu Kota Negara (IKN) baru di Kalimantan Timur. Wilayah Sulawesi Tengah yang berada pada agroekosistem tertentu yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang serta mempunyai fungsi utama untuk mendukung pemenuhan pangan di daerah IKN di Kalimantan Timur. Selain itu, daerah tersebut sangat cocok untuk pelaksanaan kegiatan penelitian dan pengembangan inovasi teknologi pada skala lapangan, khususnya di daerah sentral peternakan sapi potong. 


Adanya keragaman sifat-sifat tanah, iklim dan topografi pada suatu wilayah, menyebabkan penggunaan dan pemanfaatannya beragam. Mengingat letaknya yang strategis sebagai representasi lahan marginal, khususnya lahan kering dan berfungsi dengan baik sebagai potensi dalam mendukung peternakan, maka untuk meningkatkan peranan dan kapasitasnya, perlu direvitalisasi dengan membangun/memperbaiki performa ternak sapi melalui perbaikan nutrisi. 

Provinsi Sulawesi Tengah, sebagai salah satu wilayah dalam kawasan timur Indonesia dan berada di garis khatulistiwa, memiliki potensi keanekaragaman hayati, khususnya sektor peternakan, yang cukup besar dalam hal populasi sapi potong.  Populasi sapi di Sulawesi Tengah relatif menurun sejak 2018, dimana pada tahun 2019 mencapai 343.630 ekor (BPS Sulteng, 2019), sedangkan tahun 2018 mencapai 353.486 ekor dengan tingkat Penurunan Populasi Sapi sebesar mencapai 2,7 persen. Saat ini populasi sapi tersebut tersebar di 13 kabupaten/kota yang ada di Sulawesi Tengah. 

Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam mempercepat peningkatan populasi sapi adalah dengan pengembangan perbibitan sapi lokal pada tingkat peternak rakyat. Sapi  merupakan ternak lokal Sulawesi Tengah yang sebagian besar tersebar di wilayah Kabupaten Donggala (38.481 ekor), Sigi (43.452ekor), Parigi Moutong (29.448 ekor), Tojo Una Una (33.078 ekor), Banggai (88.168 ekor), Morowali Utara (25.947 ekor), Poso (20.321 ekor), Buol (16.516 ekor) dan Morowali (6.883 ekor). 

Mengingat pola pemeliharaan pada tingkat peternak rakyat umumnya masih secara ekstensif-tradisional. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah, melakukan kegiatan pengembangan model optimalisasi hasil ikutan pertanian, sebagai bahan utama penyusunan pakan sapi dan perbaikan nutrisi ternak pada pengembangan model pembibitan sapi potong di lahan kering berbasis zero waste. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah hasil ikutan budidaya ternak menjadi pupuk organik, pembenah tanah dan pakan ternak melalui penerapan pertanian efisien karbon sehingga, diharapkan penggunaan pupuk buatan dan pencemaran lingkungan dapat dikurangi.




Pemanfaatan limbah debu buah kakao, dapat menjadi bahan pakan alternatif untuk ternak sehingga, bisa mengurangi limbah yang ada di sekitar kebun kakao. Menurut penelitian Munier (2009), salah satu cara pengolahan yang mudah dan murah untuk meningkatkan kualitas debu kakao sebagai bahan penyusun pakan ternak, yakni dengan proses fermentasi. Proses fermentasi pada pakan ternak ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan penyusun pakan lokal yang berkualitas sehingga, dapat memenuhi kecukupan kebutuhan pakan baik kuantitas maupun kualitas sepanjang tahun (Luthan, 2007). 

Dengan pemanfaatan debu buah kakao menjadi bahan penyusun pakan ternak, sanitasi kebun terpelihara, siklus hidup hama dan penyakit terputus dan tanaman kakao menjadi sehat serta diikuti dengan produktivitas buah kakao yang tinggi. Oleh sebab itu, BPTP Sulawesi Tengah melakukan sebuah terobosan pembuatan pakan ternak komplit (feed Komplit) berbasiskan debu kakao, tepung ikan dan dedak padi. Hal ini dipertegas oleh Kepala BPTP Sulawesi Tengah, Bapak Dr. Ir. Fery Fachrudin Munier, M.Sc, terkait dengan “Optimalisasi Pemanfaatan Hasil Ikutan Komoditas Pertanian” disela-sela proses pembuatan pakan ternak silase berbahan tepung ikan, debu kakao dan dedak di IP2TP Sidondo yang dilakukan oleh peneliti dan penyuluh BPTP Sulawesi Tengah. 

Selain itu, tongkol jagung yang difermentasi dapat dimanfaatkan untuk mensubstitusi dedak padi yang harganya mahal. Tongkol jagung selama ini hanya dibakar, padahal jika difermentasikan dapat meningkatkan kandungan nutrisinya. Cara fermentasi tongkol jagung membutuhkan beberapa bahan tambahan dan cara yang lebih panjang namun, dapat bertahan lebih lama. Semua bahan penyusun ransum dicampur hingga merata. Setelah merata, ransum pakan siap untuk difermentasikan. Proses fermentasi selesai dalam 21 hari. Hasil fermentasi harus disimpan pada tempat yang aman dan terjaga dari percikan air. Dengan penyimpanan yang baik, hasil fermentasi ini dapat bertahan hingga 6 bulan. 

Pemberian pakan perhari yang dianjurkan bagi sapi adalah sebesar 10 persen dari bobot tubuh sedangkan, porsi pakan tambahan dari kulit buah ini sebesar 40 persen dari total pakan. Pemberian pakan fermentasi hasil ikutan pertanian ini dapat juga dikombinasikan dengan leguminosa yang ada seperti gamal, lamtoro, sentro, turi dan lain sebagainya. Majulah Pertanian Indonesia, Jayalah Peternakan Indonesia.

Penulis : Wardi

Editor : Muhammad Aria Yusuf